Catatan Gila Pendakian Solo Hiking Malam Hari di Gunung Gede via Putri. Mencekam, Menembus Malam - Sweeper Backpacker -->

Thursday, April 2, 2020

Catatan Gila Pendakian Solo Hiking Malam Hari di Gunung Gede via Putri. Mencekam, Menembus Malam

Suryakencana


Pagi itu matahari mulai membuka indahnya, menarik saya dari kegelapan pulau tak bertepi. menjejak apa yang ingin saya tempuh. Kemudian, tepat Matahari di jam tujuh pagi saya pergi sebagai seorang manusia yang ingin menguji mental serta menaklukan keangkuhan di dalam diri. entahlah berapa tempat yang sudah saya datangi? semuanya sama saja! saya kembali terbangun ketika cahaya pagi diantara selipan gorden yang mulai menusuk mata. *Lupakan sajak, itu hanya kata kata seorang pecundang yang bangun kesiangan.

Yang pasti saya sudah merencanakan perjalanan ini dari jauh-jauh hari, Perjalanan yang sudah lama saya Rindukan, Mandiri, sendiri, dan tak berteman. Bermodal ransel yang tak seberapa besar, serta kamera ponsel yang selalu menemani saya mengabadikan moment mengisi waktu, saya mencoba mendaki Gunung Gede via Gunung Putri. jalur ini selain terkenal karena keangkerannya, juga terkenal dengan medan sulit yang harus dilalui. Dua hal inilah yang biasanya menjadi tantangan tersendiri bagi beberapa orang.

Di sini saya akan berbagi kisah tentang perjalanan saya mendaki Gunung Gede via Putri waktu malam hari sendirian atau Solo Hiking dengan bermodalkan peralatan yang super minimalis sehingga tidak terlalu membebankan perjalanan dan melakukan persiapan sedini mungkin agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Semua pasti memiliki konsekuensinya masing-masing, terlebih jika kita melakukan Pendakian Solo di malam hari yang sangat beresiko.. tetapi seperti halnya minus dan plus pasti juga memiliki kelebihan dan kekurangan.

PERJALANAN :

Akhirnya saya memulai perjalanan dari Jakarta sekitar jam dua belas siang, memacu kendaraan seperti orang kesetanan hingga sampai di Basecamp pada jam empat sore. lumayan beruntung langit masih terang.

Administrasi selesai saya langsung mulai memacu jalan, tetapi tidak mungkin mendaki seorang diri diperbolehkan oleh pihak Resort terlebih trekking di malam hari. Namun saya memiliki teman yang menjadi Penyedia jasa non Simaksi dan salah satu Ranger di sana, bermodalkan HT atau alat berkomunikasi saya memulai perjalanan jam lima sore.

PENDAKIAN :

Saya adalah salah satu pendaki nekad yang mencoba melelang nyawa dengan berjalan sendirian di malam hari menuju Suryakencana. namun Setiap orang pasti memiliki rasa takut. Perasaan ini pula yang saya rasakan tatkala memulai petualangan ini. Ketakutan adalah penghalang yang paling besar. Intensitas rasa takut ini kian bertambah tatkala saya sebelumnya membaca cerita-cerita dari para Pendaki yang mengalami hal-hal yang diluar nalar serta mitos-mitos tempat yang saya akan tuju.

Beberapa saat berjalan langit langit mulai gelap, ketika memasuki batas vegetasi hutan sudah tidak ada lagi cahaya yang membanjiri jalan. hanya bermodalkan headlam dan sebatang rokok samsoe saya terus memacu jalan hingga sampai Legok Leunca Pos pertama jalur Putri, tak terdengar apapun, sunyi, gelap, dan mencekam. hanya itu yang saya rasa saat itu.


Vegetasi Hutan
Memotret kebelakang masuk kegelapan

Di tengah perjalanan saya terfikir sesuatu, sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya ke sini, tetapi saya ingat betul jalan selanjutnya adalah melewati salah satu Bangunan seperti rumah kecil yang sudah hancur, beberapa orang menyebutnya Pos Kunti. terlintas fikiran yang membuat saya sedikit agak gentar, Bagaimana kalau saya ketemu Kunti di Pos itu? haduh...! tetapi dengan bermodalkan sebatang rokok di dalam kesunyian saya mencoba me motivasi diri saya sendiri. kembali saya pilih tak mengindahkan itu semua, dan kembali melanjutkan perjalanan, dengan harapan berpapasan pendaki yang sedang turun. hehe


Alhasil.. melalui jalan yang sedikit datar terlihat Pos itu dari sorotan lampu di kepala, ah shit.. Pos itu ! nasi sudah menjadi bubur dan saya harus tetap berjalan, tidak seorang pun pendaki terlihat di depan sana. Saya terus berusaha memotivasi diri dalam kesendirian dan melanjutkan perjalanan.

Keadaan berlalu, Bersyukur saya sampai di Buntut Lutung Pos dua jalur Putri dan bertemu beberapa pendaki yang sedang istirahat untuk turun, sedikit perbincangan hangat malam untuk menghabiskan sebatang rokok di tangan 

Saya mulai menuju Pos tiga. setiap melangkah, saya merasa tanah yang saya injak makin tinggi. Sebelum Pos dua, kadang masih ditemukan jalan datar. Namun, selebihnya yang ada hanya tanah-tanah terjal menuju Pos tiga. Memaksa kaki melangkah tinggi ke atas. Melewati jebakan pohon, dan menembus dingin malam. Sangat melelahkan. Namun, saya tak ingin perjalanan berhenti di sini, rasa takut sudah mulai memudar berganti emosi yang mulai kelelahan.

Yang di tuju sudah sampai, yaitu Lawang Sekateng atau Pos Tiga, karna saya sudah mulai kelaparan gara-gara perjalanan yang banyak menghabiskan fikiran dan energi haha, kondisi Pos tiga kala itu lumayan ramai, dan saya memutuskan membuka makanan di bawah Shelter. belum selesai membuka makan, seseorang menghampiri saya, ia menanyakan beberapa hal tentang saya, sontak ia langsung mengajak saya makan dan berteduh di tenda nya, yaa memang saat itu udaranya sangat dingin di luar. Berbeda dengan saya yang sendiri, mereka mendaki dengan kelompok dan menawari saya bermalam di tenda nya. tetapi dengan berat hati saya menolak dan melanjutkan perjalanan menuju Suryakencana. Btw makanan yang saya bawa tidak jadi saya masak karna mereka baru saja selesai memasak dan mengharuskan saya memakan itu. memang ya di Gunung itu selalu ada hal-hal yang tidak bisa dilupakan.

Jam Sembilan kurang  saya sudah melanjutkan perjalanan menuju Suryakencana dengan perut terisi dan siap memacu kaki serta batin melawan dekapan malam. Perjalanan sungguh melelahkan, terlebih sepertinya saya terlalu kenyang karna nugget dan omlet yang tidak bisa di tolak, yaa memang saya lapar haha. perjalanan memakan waktu cukup lama, dengan kontur tanah yang terus menanjak sesekali saya bertemu pendaki yang sedang turun dari atas, bersapa, dan memberi semangat sekedarnya tidak akan menghilangkan dekapan malam yang tetap memeluk saya dalam kesunyian.

Sekitar jam Sebelas saya sampai di Pos Simpang Maleber atau Pos empat, istirahat sejenak di samping warung hanya untuk menghabiskan sebatang rokok Samsoe yang sudah saya stok untuk menemani perjalanan. di trek beberapa kali saya merasakan hal-hal aneh yang sungguh mengganggu fikiran saya, entah itu memang benar atau memang karna perasaan saya, dan yang paling di ingat adalah patahnya ranting batang pohon yang tinggi, terdengar sangat jelas, bahwa ada sesuatu yang berlari di atas pohon hingga batang itu patah, namun saya hanya berpendapat itu se ekor monyet yang mencari makan, toh setau saya monyet juga bisa beraktifitas malam seperti manusia kwkw dan saya lebih memilih melanjutkan perjalanan.

Untungnya menuju Pos lima atau Suryakencana tidak terlalu jauh, namun tetap saja trek nya semakin menjadi-jadi tatkala saya mulai kelelahan. tidak seperti biasa, perjalanan sungguh melelahkan, mungkin karna oksigen di malam hari berbeda dengan siang ataupun pagi, atau mungkin karna fikiran saya yang sedikit mengambang karna hal-hal yang menjengkelkan terus mengganggu perasaan selama Pendakian. Ya memang menembus malam sendirian tidak semudah jika kita berkelompok, secara tidak langsung saya belajar melawan rasa takut itu sendiri dan bagaimana tetap memotivasi diri agar tetap tenang dan mengalahkan kecemasan yang selalu datang.


Pohon pohon sudah mulai terbuka
Vegetasi mulai terbuka

Jam Sebelas lewat saya memutuskan melanjutkan perjalanan, saya bertemu banyak rombongan yang terpisah saat turun dari Suryakencana, hal ini membuat saya sedikit tenang dengan sapaan-sapaan mereka, tetapi tetap saja ketika rombongan-rombongan itu tidak terlihat lagi rasa kesepian datang dan kembali memacu ardernalin diri ini terus melawan rasa takut. sungguh pengalaman yang luar biasa.


Waktu menunjukan jam 23 : 46 dan akhirnya saya sampai di Suryakencana, dengan rasa bangga dan gila untuk pertama kali nya saya mendapat pengalaman berharga mendaki seorang diri saat malam hari menuju Alun-alun Suryakencana. sesampainya di sana saya di sambut dengan ratusan bintang di langit membentang sangat indah mempesona, tanah datar sangat luas dan berpagar bunga Edelweiss itu akhirnya tampak juga di pelupuk mata dalam kegelapan.

Sepertinya tubuh ini mulai letih dan kelaparan sehabis berjalan menembus malam, saya putuskan membuka Camp di Barat Suryakencana. Peralatan menginap saya kali ini begitu minimalisnya, selembar Hammock dan ponco sebagai fly sheet. Dan dengan hati gundah saya siapkan tempat tidur saya malam ini. Ternyata tak terlalu mengecewakan tidur dengan hammock di alam terbuka, meskipun pikiran terus berpindah-pindah. Antara takut, ngeri dan khawatir, apabila hantu di Pos kunti itu datang karna saya tidak permisi melewati Pos nya kwkw toh saya juga gatau ada atau tidak.

Ke esokan harinya, ketika saya terbangun ke luar. Lagi-lagi pendaki yang tendanya dekat saya menghampiri, dan menanyakan sedikit tentang keberadaan saya, yaa mungkin dia pikir waktu dia ngecamp dan menikmati Suryakencana sampai malam, saya belum sampai dan Hammock saya belum terpasang. ia sedikit terkejud dengan saya, toh saya sendiri pun terkejut dengan diri saya kwkw

Suryakencana kala itu sangat cerah berbarengan dengan udara sejuk khas Gunung Gede Pangerango, tidak ada salahnya menghabiskan waktu ber jam-jam untuk menikmati tempat Indah dan Mempesona seperti ini ditemani pendaki-pendaki lain dengan segelas kopi. sungguh bersyukur saya panjatkan kepada Allah swt, saya mendapat pengalaman berharga atas apa yang saya sudah rencanakan dari jauh-jauh hari, bahkan lebih dari sekedar pengalaman.


Alun-alun Suryakencana
Alun-alun Suryakencana

Saya paham betul apa yang saya lakukan memang sangat berbahaya dan di larang, terlebih jika saya ketauan oleh pengelola mendaki malam sendirian. tetapi setiap orang memiliki pilihannya masing-masing bagaimana dia meredam rasa takut dan terus maju dengan keyakinan dan motivasi diri sendiri, terkadang rasa takut memang harus di lawan untuk melepas kebebasan, menjaga pikiran tetap bersih dan tenang. dan mempersiapkan segalanya secukup mungkin hingga kita bisa tetap mengantisipasi kejadian yang tidak di inginkan.


Sekitar jam sembilan pagi saya memutuskan menggapai Puncak Gunung Gede dengan ketinggian 2958 Mdpl. Berjalan diantara Savana rumput dan Bunga Edelweis khas Suryakencana adalah salah satu hal yang tidak pernah mengecewakan dalam hidup saya, hal ini lah membuat saya ingin terus menerus kembali menjajaki Suryakencana sekedar menengok kebun Edelweis dan menikmati suasana di sana.


Bunga Edelweis atau Bunga Abadi
Bunga Edelweis atau Bunga Abadi


Sebelum jam dua belas akhirnya saya kembali ke tempat persembunyian saya, yaitu Hammock dan Ponco yang menjaga saya dari dinginnya malam, enggan rasanya diri ini meninggalkan Suryakencana yang membentang di hadapan saya, tetapi raga ini di haruskan kembali ke kota untuk menghadapi masalah-masalah yang sudah menunggu saya, dan pulang dengan selamat sampai Jakarta.

Turun dari Suryakencana saya memanfaatkan waktu Siang hari, yaa memang saya sudah terlalu bosan berjalan malam sendirian . apalagi jika diharuskan bertarung dengan rasa takut sekali lagi, haduh saya lebih baik menunggu esok hari sampai waktu pagi kwkwkw karna segala sesuatunya pasti membutuhkan persiapan yang benar-benar matang.

Demikian lah Cerita tentang Pendakian Gunung Gede via Putri Solo Hiking waktu Malam Hari. 

Sedikit Konsekuensi Tentang Pendakian Gunung di Malam Hari:

BEBERAPA KELEBIHAN :

Beberapa kelebihan mendaki sendiri ketika malam hari adalah bagaimana seseorang melawan rasa takut di dalam dirinya sendiri dan terus memotivasi diri untuk maju, tetap tenang, berpikir positive dan percaya pada diri sendiri serta menekankan keberanian, mengatur ritme emosi yang bercampur rasa takut selama di jalan. walaupun di jalur Pendakian, tetapi Solo Hiking di malam hari sedikit menggambarkan bagaimana kondisi Survival dengan mengedepankan Mental demi bertahan hidup untuk kebebasan di dalam dekapan malam dan gangguan hutan. dan lain-lain

BEBERAPA KEKURANGAN : 

Beberapa Kekurangannya adalah bahaya yang sewaktu-waktu dapat mengancam kita, ketika kita berjalan sendirian dan terjatuh alhasil yang menolong kita adalah diri kita sendiri, sebelum pendaki lain melintas, ataupun terserang hipotermia ketika kita sedang istirahat sangat membahayakan, serta mental yang down akibat gangguan-gangguan makhluk halus yang sewaktu-waktu dapat menggangu, toh kan memang Gunung dan Mistis tidak bisa di pisahkan, Namun juga tidak luput dari rawan nya bahaya serangan binatang buas. dan masih banyak yang lainnya..

NOTE : Pendakian ini di lakukan pada Bulan September tahun 2018(kalau tidak salah). Dengan persiapan matang dan Berbekal Ilmu Navigasi yang tepat sehingga perjalanan semakin menemukan titik besar keberhasilan, Jadi jangan dicoba tanpa persiapan mental, fisik, serta ilmu navigasi tentang alam ya. bisa-bisa meleset dan malah mencelakai diri sendiri. Mohon maaf sebelumnya jika ada salah-salah kata atau ada tulisan yang kurang berkenan di hati.

TIPS : Jika ingin menggunakan peralatan yang super minimaslis harus memikirkan dengan matang segala persiapan, termasuk bagaimana kondisi fisik kita, karna bagaimanapun hanya kita sendiri lah yang tau betul bagaimana batas kemampuan dalam diri, entah itu dalam batas lelahnya perjalanan dan tidak memaksakan, menahan batas dingin yang mengakibatkan gagalnya adaptasi tubuh terhadap suhu yang sangat berakibat fatal karna peralatan tidur yang terbatas dan cukup terbuka. Hingga mental yang terus di asah dan langsung belajar memotivasi diri dalam rasa takut berlarut-larut.
Hammock dan fly sheet
Sumber : Goggle
Hanya gambaran. Tidak jauh seperti itu tempat tidur saya, tetapi saya lebih rapat untuk menahan angin dan dingin.

PERALATAN : Peralatan yang saya bawa pun tentu bukan sekedar Tas sedang berisi Hammock dan Flysheet saja, saya pun tetap membawa beberapa peralatan seperti Sleeping Bag dan Jaket Tebal yang menjadi hal wajib. Lalu Sepatu menjadi hal fital dalam pendakian jadi gunakan lah yang memang standar Safety dan nyaman tentunya. tidak lupa Kompor dan Suplai Logistik yang di butuhkan dalam Pendakian. serta beberapa Peralatan lain yang di butuhkan dalam Perjalanan. Usahakan menggunakan Hammock yang cukup tebal dan berbahan kuat yang dapat menahan angin ketika tidur, dan Flyseet yang saya gunakan pun bukan Flyseet yang hanya mengaliri air saja, tetapi saya memilih berbahan Ultralight sebagai penahan dingin dan embun malam, lumayan kan cukup untuk menemani tidur di alam bebas.

BACA JUGA : ILMU DASAR TENTANG SURVIVAL WAJIB BAGI PENGGIAT ALAM

Semoga Bermanfaat dan Menambah wawasan.


Sekian Dan Terima Kasih.

Bagikan artikel ini

6 comments

  1. Wahhh saya ikut bersyukur Mas blog ini akhirnya berhasil melakukan pendakian. Bisa selamat dan sehat walafiat hingga bisa membalas pesan saya di media social setelah melakukan solo hiking yg menegangkan pada thn 2018. Informasinya sangat lengkap dan menarik, saya ikut terbawa pada alur ceritanya terlebih pada part saat melewati pos Kunti bagian yg membuat saya membayangkan saat masnya melewati pos kunti semua Kunti sedang bersantai ngopi menikmati indah dan dinginnya malam sembari berbincang bincang sesama kaum kunkun dan memberikan tatapan tajam mereka pada masnya ketika lewat sambil berkata "anak Karuhun mana dia berani lewat sendiri" haha🤣🤣 sukses selalu dan terus berkarya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. cukk... demi apapun gue ngakak baca koment ini kwkwk tapi terima kasih banyak yaa. Sehat slaluu

      Delete